Skip available courses

Available courses

Background and overall aim of the course.

The course is an introduction to the logic and methods of modern social program evaluation (also known as program impact assessment). Program evaluation derives from the idea that social programs should have demonstrable effects, and those effects should in some way outweigh the costs of the program. We concentrate on the most important and perhaps most difficult question: How to measure the effect of a program? This is an applied econometrics course, with equal emphasis on the applied and the econometrics part. We are going to cover some new econometric methods and go over many real-life applications (many to be presented by the students, see later).  

The learning outcomes of the course. 

By successfully completing the course the students will be able to:  - read and understand published reports and research papers on program evaluation; - participate in the design of program evaluation research as part of a team; - carry out simple analyses and participate in teams carrying out more complex analyses; - present results of program evaluation analyses. - evaluate reports and research papers on program evaluation; - in particular, assess their internal and external validity and identify the most important assumptions upon which those hinge.
 

Site announcements

Kongres Perdana APENMASI


Kongres Perdana Asosiasi Pendidikan Masyarakat Indonesia (APENMASI) ini dijadwalkan telah dibuka oleh Wakil Presiden RI di Istana Wakil Presiden pada 6 Maret 2019, dan dihadiri oleh sekitar 250 peserta dari berbagai kementerian, perguruan tinggi negeri dan swasta, beberapa lembaga mitra lainnya dari dalam dan luar negeri.

APENMASI adalah wadah para pakar, peneliti, ilmuwan, dan praktisi pendidikan masyarakat yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS) dan tersebar di berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di seluruh tanah air yang menyelenggarakan beragam kegiatan pendidikan kesetaraan, pengembangan minat dan pribadi dan pembekalan keterampilan dasar hidup, untuk terus berkontribusi menjankau mereka yang miskin dan tertinggal.

Melalui kegiatan tri-dharma-nya, APENMASI telah mengidentikasi 18 kelompok sasaran masyarakat yang dinilai memiliki tingkat kerawanan sosial dan ekonomi yang tinggi, seperti petani miskin, masyakarat adat, anak jalanan, buruh migran, anak dengan gizi buruk, dsb. Dari jumlah itu terdapat 128 agenda strategis nyata yang akan dilaksanakan dalam berbagai kegiatan penelitian dan pengabdiannya pada masyarakat untuk membebaskan mereka dari keterbelakangannya.

Lahirnya agenda strategis itu didasarkan pada kerisauan atas semakin melebarnya tingkat kesenjangan sosial di negeri ini. Meski diakui bahwa pemerintah saat ini telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka yang tertinggal, tapi banyak pula harapan yang belum dapat diwujudkan. Kenyataan menunjukkan bahwa saat ini tingkat kesenjangan sosial di tanah air masih amat tinggi, bahkan dilaporkan oleh Global Wealth Databooks (2016), Indonesia berada pada urutan ke empat terburuk di dunia, berada setelah Rusia, India, dan Thailand. Bahkan diungkapkan pula oleh Oxfam (2017) bahwa kekayaan empat orang kaya Indonesia setara dengan jumlah kekayaan yang dimiliki 100 juta penduduk miskin negeri ini. Bahkan, dilaporkan pula oleh Kompas pada 15 dan 16 Maret 2018 bahwa terdapat hanya beberapa warga negara yang menguasai hampir 50 juta hektar lahan atau setara dengan 741 kali luas Jakarta.

Yang amat memprihatinkan lagi adalah kekayaan orang kaya Indonesia ini disembunyikan di luar negeri. Oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan menyebut 80 persen asetnya disembunyikan di Singapura (Straits Times, 21/7/2016), dan Presiden Jokowi menyebutkan pula terdapat Rp 11.000 triliun dui mereka yang disembunyikan di luar negeri (Setkab, 6/12/2016). Jumlah ini setara 5-6 kali jumlah APBN yang seharusnya dinikmati oleh 265 juta penduduk negeri ini.

Jika kesenjangan ini dibiarkan berlansung lama, negeri kita akan terus mengalami keterpuruan, tertinggal dari bangsa-bangsa lain dan selnjutnya akan mengalami pelapukan masa depan. Keterbelakang, kemiskinan dan ketidakberdayaan masyakat sesungguhnya berpangkal dari keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Salah satu penyebab terjadinya kesenjangan sosial yang amat ekstrim itu adalah adanya kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) antarwarga negara. Pada 21 Maret 2011, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam rapat kerja dengan

Komisi X DPR melaporkan, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia, mulai dari SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Terdapat, 40,31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia berada di bawah standar pelayanan minimal, 48,89 persen pada posisi standar pelayanan minimal, dan 10,15 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan, dan 0,65 persen sekolah-sekolah yang dinilai sudah sekolah bertaraf internasional, hanya 0,65 persen.

Bahkan pada akhir 2012, firma pendidikan Pearson mempublikasikan bahwa sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia bersama Meksiko dan Brasil, dan yang dinilai terbaik adalah Finlandia dan Korea Selatan, dan kemudian diikuti Hong Kong, Jepang dan Singapura.

Kesenjangan pengetahuan di masa lalu ini dinilai sebagai pangkal dari adanya kesenjangan-kesenjangan lainnya yang kita alami saat ini.

Karenanya, APENMASI berikhtiar untuk terus berkontribusi menjankau mereka yang terpencil yang sulit terjangkau, memberdayakan mereka yang miskin dan tertinggal, membekali mereka pengetahuan dan ketrampilan dasar hidup fungsional yang memungkinkannya bergerak ke taraf kehidupan yang lebih mulia.

Dengan: Agenda Strategis APENMASI: Memajukan Mereka Yang Tertinggal, Kongres Perdana ini bertujuan:

  1. Untuk menpertemukan sejumlah PTN dan PTS yang memiliki Program Studi Pendidikan Masyarakat beserta berbagai jaringan mitranya untuk memperkuat sinergitas dan kerjasamanya dalam pelaksanaan kegiatan tri-dharma perguruan tinggi dengan berfokus pada 18 kelompok sasaran masyarakat yang rentan terhadap berbagai persoalan social dan ekonomi.
  2. Untuk membahas penerapan Agenda Strategis APENMASI sesuai dengan koridor ekonomi lokal masing-masing perguruan tinggi di seluruh tanah air, misalnya Penmas UPI Bandung membina desa Cihampelas Kecamatan Cililin, Bandung Barat menjadi desa Eceng Gondok yang memanfaatkan gulma tanaman yang liar ini menjadi sepatu, tas, tikar, kursi, meja dan berbagai produk lainnya yang bernilai ekonomi tinggi.
  3. Untuk menjabarkan seluruh Agenda Strategis tersebut dengan skala prioritasnya hingga ke pranata-pranata sosial paling bawah dengan melibatkan berbagai pihak terkait, seperti pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), dan institusi-institusi pendidikan yang sudah mengakar di masyarakat.

Seusai pembukaan Kongres di Istana Wakil Presiden, acara Kongres akan dilanjutkan di Kampus Universitas Negeri Jakarta, dengan mengundang Sekertaris Eksekutif TNP2K, Dubes Bangladesh, untuk berbagi pengalaman atas keberhasilan Muhammad Yunus memberdayakan masyarakat miskin di Bangladesh, dan sejumlah pembicara lainnya dari berbagai universitas yang mewakili bagian barat, tengah dan timur Indonesia.